Kayu Agung, Kompas - Tim ekspedisi Sriwijaya tiba di Desa Kertamukti, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Jumat (9/10). Di Air Sugihan, tim meninjau situs Air Sugihan berupa sisa tiang rumah panggung dari zaman pra-Sriwijaya sampai abad XIII Masehi.
Perjalanan menyeberangi Selat Bangka menuju Air Sugihan dimulai pukul 10.00 dari Dermaga Tanjung Tedung, Kabupaten Bangka Tengah, dengan menggunakan speed boat. Ombak di Selat Bangka lumayan tinggi meskipun musim angin barat belum tiba.
Situs Air Sugihan menjadi bagian penting dari ekspedisi Sriwijaya karena wilayah tersebut sudah menjadi permukiman sejak sebelum masa Sriwijaya. Air Sugihan juga terletak di jalur pelayaran dan perdagangan yang ramai antara Palembang dan Bangka, wilayah tersebut sejak zaman Sriwijaya merupakan jalur pelayaran dan perdagangan penting.
Arkeolog dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, yang pernah mengadakan penelitian di Air Sugihan pada tahun 1989, menjelaskan, situs Air Sugihan ditemukan berkat laporan dari masyarakat yang menemukan manik-manik dan kendi dari China di sekitar situs.
Bambang menuturkan, temuan manik-manik dan keramik dari India menunjukkan bahwa saat itu sudah ada hubungan antara masyarakat Sumatera dan India. Keramik India mempunyai ciri khas, yaitu tingkat kekerasan tinggi dan warna kemerahan.
”Permukiman di rawa-rawa ini adalah permukiman awal di pantai timur Sumatera dan mulai masuknya pengaruh India ke Indonesia,” ujarnya.
Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti menuturkan, tiang kayu nibung, seperti di situs Air Sughan, juga ditemukan di situs Karang Agung, Kabupaten Musi Banyuasin, dan situs di delta Berbak, Jambi. Nibung adalah tanaman khas kawasan pantai Asia Tenggara. Kayu nibung banyak dimanfaatkan untuk membangun rumah panggung atau jerambah (jembatan).
Kembali ke Palembang
Setelah menginap semalam di balai desa Kertamukti, tim ekspedisi Sriwijaya melanjutkan perjalanan ke Sungai Upang, pada hari Sabtu, untuk melakukan pengamatan sebelum pulang ke Palembang. Sungai Upang juga merupakan permukiman tua di pantai timur Sumatera, seperti Air Sugihan dan Kota Kapur.
Menurut Nurhadi, tim ekspedisi Sriwijaya akan membandingkan temuan kayu nibung di Air Sugihan dengan rumah panggung di Sungai Upang.
Sampai di Palembang, tim ekspedisi Sriwijaya akan diterima Asisten III Pemprov Sumsel Aidit Aziz di auditorium Bina Praja, untuk memaparkan hasil ekspedisi Sriwijaya. (WAD)
sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/10/03282041/
Kumpulan Penggalan Artikel Air Sugihan
Asalamualaikum wr. wb
Selamat datang di "KUPAAS" sebuah blog yang saya ciptakan untuk masyarakat air sugihan, blog ini adalah sebuah rintisan oleh karena itu mohon maaf jika banyak kesalahan mohon saran dan kritiknya agar saya dapat memperbaikinya,, semua isi artikel ini di dapat dari sumber lain, baik web link maupun warga setempat, dan saya ucapkan terima kasih atas kunjungan anda dan saran maupun kritiknya.
"Kesuksesan akan Menghampiri dari Hal Kecil"
Wasalam.
Tampilkan postingan dengan label Ekspedisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekspedisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 17 Maret 2010
Ekspedisi Tiba Di Air Sugihan
Situs Air Sugihan
Penemuan situs arkeologi di wilayah tersebut bermula dari pembuatan permukiman transmigransi di daerah pasang surut. Untuk sarana transportasi sungai dibuat kanal-kanal yang dapat dilayari speed-boat. Lahan permukiman tersebut dihuni sejak tahun 1980-an. Ada dua areal yang digunakan sebagai permukiman transmigran, di sebelah utara sungai Musi yaitu daerah Karangagung dan sekitarnya dan di sebelah selatan sungai musi yaitu daerah Air Sugihan. Pada akhir tahun 1980-an dari air Sugihan telah dilaporkan penemuan keramik Cina dan manik-manik. Kemudian pada akhir tahun 1990-an di Karangagung juga terjadi penemuan oleh penduduk berupa manik-manik dan barang-barang emas. Ekskavasi di daerah Karangagung menemukan sisa-sisa tiang rumah dari kayu medang dan Nibung. Analisis C-14 dari Karangagung menunjuk ke sekitar abad ke-5 Masehi. Berdasarkan pengkajian pada berita Cina, Wolters memperkirakan pusat-pusat niaga pada abad ke-3 (Ko-ying) dan abad ke-5-6 M (Kan-t’o-li) berada di pantai timur Sumatera Selatan. Sayang waktu Wolters memperkirakan lokasi Ko-ying dan Kan-t’o-li, situs Karangagung dan Air Sugihan belum ditemukan. Tetapi tentu saja sekarang ini belum bisa langsung dipastikan bahwa Karangagung dan Air Sugihan adalah Ko-ying dan Kan-t’o-li. Alasan yang mendorong menempatkan Ko-ying dan Kan-t’o-li di Karangagung dan Air Sugihan adalah karena adanya temuan arkeologi di kedua situs tersebut yang menunjukkan adanya aktivitas perdagangan, tidak hanya lokal, tetapi internasional, paling tidak berkaitan dengan India, Cina, dan Funan.
sumber: http://www.infogue.com/viewstory/2008/08/08/situs_air_sugihan_palembang/?url=http://tapakarkeologi.blogspot.com/2008/06/protosejarah-di-palembang.html
sumber: http://www.infogue.com/viewstory/2008/08/08/situs_air_sugihan_palembang/?url=http://tapakarkeologi.blogspot.com/2008/06/protosejarah-di-palembang.html
Jejak-jejak Pra-Sriwijaya di Air Sugihan
Kawasan Air Sugihan di Kabupaten Ogan Komering Ilir dikenal sebagai salah satu lumbung padi Sumatera Selatan. Kawasan rawa di pantai timur Sumatera yang dibuka sebagai lokasi transmigrasi sejak tahun 1980-an itu dipenuhi persawahan.
Sungai terbesar di kawasan tersebut adalah Sungai Sugihan, dengan beberapa anak sungainya. Sungai Sugihan bermuara ke Selat Bangka.
Pemerintah membangun kawasan perairan di pinggir Sungai Sugihan sebagai permukiman transmigrasi. Kanal-kanal besar dan kecil dibuat sebagai sarana transportasi antarpermukiman transmigran. Kawasan transmigrasi yang masuk Kecamatan Air Sugihan itu kemudian dikenal dengan nama Jalur karena banyaknya kanal di sana.
Kawasan Air Sugihan merupakan salah satu lokasi yang akan disinggahi tim ekspedisi Sriwijaya. Tim berangkat dari Kota Kapur, Bangka, menuju Air Sugihan dengan menggunakan perahu. Di Air Sugihan, tim akan melakukan pengamatan dan penelitian terhadap peninggalan arkeologis di kawasan itu.
Penelitian oleh tim arkeologi di Air Sugihan pernah dilakukan pada tahun 2007 dan 2008. Tim menemukan berbagai peninggalan yang diduga berasal dari zaman sebelum Sriwijaya (pra- Sriwijaya), atau dari abad III hingga IV Masehi.
Menurut Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti (Kompas, 26 Mei 2006), kawasan Air Sugihan lebih dulu dieksploitasi kekayaan arkeologinya, khususnya manik-manik dan keramik.
Setelah peninggalan dari Air Sugihan semakin berkurang karena dieksploitasi, para pemburu harta karun mengalihkan perhatian ke Karangagung, Kabupaten Musi Banyuasin, di sebelah barat Air Sugihan.
Penemuan artefak
Berdasarkan laporan tim peneliti situs Air Sugihan oleh Puslitbang Arkeologi Nasional tahun 2008 yang dipimpin Endang Sri Hardianti, terdapat beberapa artefak yang ditemukan dari hasil penggalian (ekskavasi) dan dari survei.
Artefak dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu artefak logam, tembikar, artefak kayu dan ijuk, manik-manik, fragmen kaca, fragmen emas, fragmen batuan, dan sisa tumbuhan.
Penemuan yang unik dari penggalian di Air Sugihan adalah tiang-tiang rumah panggung dari kayu nibung (sejenis kelapa). Formasi tiang-tiang itu menunjukkan, permukiman penduduk pada masa itu dibangun di pinggir sungai, dengan sebagian tiang berada di bantaran sungai. Ternyata kondisi permukiman pada masa lalu di Air Sugihan tak jauh berbeda dengan kondisi permukiman pada masa kini.
Saat penggalian di Air Sugihan, tim dari Puslitbang Arkeologi Nasional menemukan sisa ijuk yang menempel pada sisa tiang nibung. Ijuk digunakan untuk mengikat struktur rumah panggung, atau semacam kawat pada bangunan modern.
Penemuan tiang bekas rumah panggung itu juga diikuti dengan penemuan berbagai macam pecahan tembikar yang salah satu fungsinya adalah sebagai perkakas rumah tangga. Tembikar yang banyak ditemukan di Air Sugihan adalah tungku dan kendi.
Banyaknya penemuan benda purbakala di Air Sugihan membuktikan bahwa kawasan tersebut sejak zaman pra-Sriwijaya sudah menjadi kawasan permukiman penting meskipun belum ditemukan prasasti yang menyebutkan tentang Air Sugihan. Namun, keberadaannya dapat disejajarkan dengan Kota Kapur, yang juga disinggahi tim ekspedisi Sriwijaya. (WAD)
sumber: http://jakarta45.wordpress.com/2009/10/08/
Sungai terbesar di kawasan tersebut adalah Sungai Sugihan, dengan beberapa anak sungainya. Sungai Sugihan bermuara ke Selat Bangka.
Pemerintah membangun kawasan perairan di pinggir Sungai Sugihan sebagai permukiman transmigrasi. Kanal-kanal besar dan kecil dibuat sebagai sarana transportasi antarpermukiman transmigran. Kawasan transmigrasi yang masuk Kecamatan Air Sugihan itu kemudian dikenal dengan nama Jalur karena banyaknya kanal di sana.
Kawasan Air Sugihan merupakan salah satu lokasi yang akan disinggahi tim ekspedisi Sriwijaya. Tim berangkat dari Kota Kapur, Bangka, menuju Air Sugihan dengan menggunakan perahu. Di Air Sugihan, tim akan melakukan pengamatan dan penelitian terhadap peninggalan arkeologis di kawasan itu.
Penelitian oleh tim arkeologi di Air Sugihan pernah dilakukan pada tahun 2007 dan 2008. Tim menemukan berbagai peninggalan yang diduga berasal dari zaman sebelum Sriwijaya (pra- Sriwijaya), atau dari abad III hingga IV Masehi.
Menurut Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti (Kompas, 26 Mei 2006), kawasan Air Sugihan lebih dulu dieksploitasi kekayaan arkeologinya, khususnya manik-manik dan keramik.
Setelah peninggalan dari Air Sugihan semakin berkurang karena dieksploitasi, para pemburu harta karun mengalihkan perhatian ke Karangagung, Kabupaten Musi Banyuasin, di sebelah barat Air Sugihan.
Penemuan artefak
Berdasarkan laporan tim peneliti situs Air Sugihan oleh Puslitbang Arkeologi Nasional tahun 2008 yang dipimpin Endang Sri Hardianti, terdapat beberapa artefak yang ditemukan dari hasil penggalian (ekskavasi) dan dari survei.
Artefak dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu artefak logam, tembikar, artefak kayu dan ijuk, manik-manik, fragmen kaca, fragmen emas, fragmen batuan, dan sisa tumbuhan.
Penemuan yang unik dari penggalian di Air Sugihan adalah tiang-tiang rumah panggung dari kayu nibung (sejenis kelapa). Formasi tiang-tiang itu menunjukkan, permukiman penduduk pada masa itu dibangun di pinggir sungai, dengan sebagian tiang berada di bantaran sungai. Ternyata kondisi permukiman pada masa lalu di Air Sugihan tak jauh berbeda dengan kondisi permukiman pada masa kini.
Saat penggalian di Air Sugihan, tim dari Puslitbang Arkeologi Nasional menemukan sisa ijuk yang menempel pada sisa tiang nibung. Ijuk digunakan untuk mengikat struktur rumah panggung, atau semacam kawat pada bangunan modern.
Penemuan tiang bekas rumah panggung itu juga diikuti dengan penemuan berbagai macam pecahan tembikar yang salah satu fungsinya adalah sebagai perkakas rumah tangga. Tembikar yang banyak ditemukan di Air Sugihan adalah tungku dan kendi.
Banyaknya penemuan benda purbakala di Air Sugihan membuktikan bahwa kawasan tersebut sejak zaman pra-Sriwijaya sudah menjadi kawasan permukiman penting meskipun belum ditemukan prasasti yang menyebutkan tentang Air Sugihan. Namun, keberadaannya dapat disejajarkan dengan Kota Kapur, yang juga disinggahi tim ekspedisi Sriwijaya. (WAD)
sumber: http://jakarta45.wordpress.com/2009/10/08/
Ditemukan Pecahan Keramik Abad XII
KAYU AGUNG, KOMPAS.COM — Pecahan keramik lokal dan keramik China yang diperkirakan dari abad XII ditemukan warga Desa Kertamukti, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Temuan langsung ditunjukkan kepada tim ekspedisi Sriwijaya yang sedang mengunjungi Situs Air Sugihan.
Di Situs Air Sugihan, Desa Kertamukti, Kabupaten Ogan Komering Ilir, pernah ditemukan tiang-tiang dari kayu nibung (sejenis kelapa) yang dulu merupakan tiang rumah panggung. Tiang kayu itu diperkirakan berasal dari masa pra-Sriwijaya atau sebelum abad VII Masehi sampai ke masa yang lebih modern pada abad XIII. Di Situs Air Sugihan juga ditemukan manik-manik, batu asahan, kendi, dan kepingan benda-benda dari emas. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan tempat aktivitas masyarakat pada saat itu.
Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni, akhir pekan lalu mengatakan, tempat penemuan pecahan keramik oleh warga tersebut terletak di Situs Kertamukti III. Di Desa Kertamukti terdapat 10 situs purbakala, sedangkan di Kecamatan Air Sugihan terdapat 15 situs purbakala.
Menurut Tri, pecahan keramik yang baru ditemukan warga merupakan keramik buatan lokal dan keramik buatan China dari Dinasti Sung abad XII Masehi. Keramik buatan lokal tampak dari warnanya yang kehitaman, sedangkan keramik China buatannya lebih halus dan mengilap.
Tri menambahkan, Situs Air Sugihan terletak di pinggir sungai lama yang sekarang telah mengering. Sungai tersebut merupakan anak dari Sungai Sugihan.
Daromi, warga yang menemukan pecahan keramik, mengatakan, pecahan keramik ditemukannya di lokasi situs tiang kayu nibung di belakang rumahnya. Saat itu Daromi bermaksud membersihkan situs tiang kayu nibung karena akan dikunjungi tim ekspedisi Sriwijaya. ”Pada 2 Oktober saya juga menemukan pecahan keramik di tempat yang sama,” ujarnya. Di Desa Kertamukti sejak 1990-an sering ditemukan benda purbakala. (WAD) / Kompas Cetak
sumber: http://www.forumbudaya.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1521&Itemid=65
Di Situs Air Sugihan, Desa Kertamukti, Kabupaten Ogan Komering Ilir, pernah ditemukan tiang-tiang dari kayu nibung (sejenis kelapa) yang dulu merupakan tiang rumah panggung. Tiang kayu itu diperkirakan berasal dari masa pra-Sriwijaya atau sebelum abad VII Masehi sampai ke masa yang lebih modern pada abad XIII. Di Situs Air Sugihan juga ditemukan manik-manik, batu asahan, kendi, dan kepingan benda-benda dari emas. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan tempat aktivitas masyarakat pada saat itu.
Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni, akhir pekan lalu mengatakan, tempat penemuan pecahan keramik oleh warga tersebut terletak di Situs Kertamukti III. Di Desa Kertamukti terdapat 10 situs purbakala, sedangkan di Kecamatan Air Sugihan terdapat 15 situs purbakala.
Menurut Tri, pecahan keramik yang baru ditemukan warga merupakan keramik buatan lokal dan keramik buatan China dari Dinasti Sung abad XII Masehi. Keramik buatan lokal tampak dari warnanya yang kehitaman, sedangkan keramik China buatannya lebih halus dan mengilap.
Tri menambahkan, Situs Air Sugihan terletak di pinggir sungai lama yang sekarang telah mengering. Sungai tersebut merupakan anak dari Sungai Sugihan.
Daromi, warga yang menemukan pecahan keramik, mengatakan, pecahan keramik ditemukannya di lokasi situs tiang kayu nibung di belakang rumahnya. Saat itu Daromi bermaksud membersihkan situs tiang kayu nibung karena akan dikunjungi tim ekspedisi Sriwijaya. ”Pada 2 Oktober saya juga menemukan pecahan keramik di tempat yang sama,” ujarnya. Di Desa Kertamukti sejak 1990-an sering ditemukan benda purbakala. (WAD) / Kompas Cetak
sumber: http://www.forumbudaya.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1521&Itemid=65
Langganan:
Postingan (Atom)